Serpong, 2 – 3 September 2020

    Pusat Teknologi Sistem dan Prasarana Transportasi (PTSPT) - Deputi bidang Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekyasara (TIRBR) - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi ( BPPT) yang merupakan PRN Perkeretaapian, mengadakan Focus Group Discussion pada tanggal 2 – 3 September di Serpong – Tangerang Selatan.

    Gambar 1. Kata sambutan oleh Direktur PTSPT

    Acara FGD dibuka oleh Dr. Ir. Rizqon Fajar, M.Sc. selaku Direktur PTSPT dan dalam kata sambutannya menekankan pentingnya kerjasama antara pihak akademisi dan praktisi dalam kemampuannya untuk membuat komponen-komponen secara mandiri dari Sistem Propulsi yang merupakan bagian penting dari Sistem Perkeretaapian secara keseluruhan. . Focus Group Discussion diikuti oleh internal staff Pusat Teknologi Sistem dan dan Prasarana Transportasi – BPPT, perwakilan industri dan akademisi di bidang perkeretaapian Dari pihak akademisi sebagai nara sumber adalah Feri Yusivar dari Universitas Indonesia (UI), sedang dari pihak praktisi adalah Febry Pandu Wijaya dan Takashi Emoto dari PT. Inka.

    Tujuan dari penyelenggaraan FGD kali ini adalah untuk mengetahui tentang arsitektur sistem propulsi baik untuk kereta perkotaan maupun kereta kecepatan tinggi (High Speed Train – HST) dan penghitungan RAMS Sistem Propulsi.

    Hal pertama yang dilakukan adalah mengetahui gambaran umum tentang system propulsi kemudian dilanjutkan dengan melakukan penyusunan desain propulsi yang meliputi motor traksi, converter, inverter, VVVF dan juga kebutuhan daya penggerak kereta dengan menggunakan metode Davis Equation (power and resistance) untuk mengontrol kecepatan.

    Gambar 2. Acara FGD

     

    Selanjutnya mengenai arsitektur system propulsi untuk kereta cepat (HST), pihak PT.Inka yang dalam hal ini diwakili oleh Febry Pandu Wijaya menjelaskan bahwasannya untuk kereta cepat dapat mengambil contoh dari TGV (Perancis), ICE (Jerman), CRH (China) dan Shinkansen (Jepang). Dalam system propulsi kereta cepat lebih ditekankan pada motor traksinya karena mempengaruhi efisiensi dari kebutuhan daya penggerak dengan kecepatan yang diperoleh. Perlu instalasi dari powergrid (disesuaikan aliran energinya), untuk meningkatkan efisiensi energi HST. Juga dijelaskan mengenai  konsep Concentrated vs Distribution traction system dan dalam hal ini PT. Inka lebih memilih Distributed traction system. Pemilihan Distributed traction system ini memungkinkan untuk mengadopsi system propulsi pada Shinkansen seri 700 atau seri N700 dan ini memberikan peluang kepada  PT. Pindad untuk memproduksi motor traksi dengan kapasitas lebih dari 500 KW.

    Dan yang terakhir adalah masalah penghitungan nilai RAMS kereta yang dalam hal ini dipilih penghitungan RAMS system propulsi untuk LRT Palembang. Dalam kesempatan ini dibahas hal-hal yang menyangkut pengembangan kereta LRT – Palembang , apakah sudah mengikuti prosedur dalam life cycle dari produk, dimulai dari konsep, definisi, risk analysis, spesifikasi dan persyaratan teknis, cara kerja system propulsi saat kondisi normal dan saat ada gangguan. Dalam Tahap Desain pertimbangan apa saja yang perlu dalam pemilihan komponen, komponen-komponen vital apa saja yang ada dalam sistem propulsi, seberapa besar kemungkinan komponen vital ini mengalami kerusakan/ gangguan serta pakah program maintenance telah dipersiapkan sebelum LRT beroperasi.

    Redaksi ~ Sofwan Hidayat M.Eng, Staff PTSPT, sofwan.hidayat@bppt.go.id



    © 2020 PTSPT-BPPT. All Rights Reserved.